Review Kiwi Ears Cadenza II
Cihuy!! Ada IEM baru lagi nih di Bass Audio. Kiwi Ears Cadenza II merupakan IEM kelanjutan dari Kiwi Ears Cadenza original yang dulu pernah terkenal untuk sebuah IEM budget dari Kiwi Ears. Namun sekarang IEM ini datang dengan pembaharuan teknologi KARS yang sebelumnya ada di Kiwi Ears Singolo. Menarik banget ga sih? Biar ga penasaran lagi, yuk kita masuk ke pembahasannya!
PEMBUKA :
Kiwi Ears Cadenza II adalah IEM yang spesial karena menghadirkan kualitas suara yang rapi dengan teknologi terbaru. IEM ini menggunakan 10mm Titanium-Coated Dynamic Driver yang dipadukan dengan teknologi terbaru KARS 2.0 (Kiwi Acoustic Resonance System) untuk menghasilkan tonal balance yang natural dan performa teknis yang lebih presisi.
KARS 2.0 merupakan bentuk rekayasa dari Resonator Helmholtz yang dirancang untuk mengoptimalkan aliran udara melalui sistem labyrinth internal. Teknologi ini memungkinkan sebuah IEM single DD memiliki peningkatan sub bass yang menciptakan karakter bass yang dalam seperti subwoofer yang biasanya hanya bisa didapatkan dari suatu IEM dengan konfigurasi multi driver. Peningkatan kuantitas sub bass tersebut tetap membuat suara bassnya menjadi bersih, terkontrol, dan tidak mengganggu frekuensi lainnya. Hasilnya adalah bass dengan tekstur dan akurasi yang tinggi untuk ukuran single driver. Dengan teknologi tersebut, IEM ini dijual di marketplace Indonesia dengan harga 800 ribuan.
PACKAGING :
IEM ini memiliki box yang berukuran kecil dengan tampilan yang cukup simpel. Warna box-nya adalah gradasi antara warna ungu dan biru. Di depannya terdapat tulisan nama dan juga gambar dari IEM-nya. Sedangkan untuk isi kelengkapannya terdapat sepasang IEM, kabel 3.5mm, 3 pasang eartips wide bore, dan 3 pasang eartips narrow bore.

Gambar Packaging Kiwi Ears Cadenza II
DESAIN :
Tampilan dari housing IEM ini juga termasuk yang simpel dan elegan. IEM ini memiliki 2 varian warna faceplate, yaitu biru dan abu-abu. Di masing-masing faceplate-nya terdapat tulisan “Kiwi Ears“ beserta motif berwarna putih yang berbentuk seperti batik yang menyerupai akar.
Bahan dari housing-nya terbuat dari polycarbonate composite yang ringan namun kuat, dipadukan dengan faceplate berbahan aluminium aerospace-grade hasil CNC machining. Finishing-nya memiliki tekstur halus yang memberikan kesan premium, baik secara visual maupun saat disentuh.

Gambar Desain Kiwi Ears Cadenza II
Kabel bawaannya juga bagus banget loh. Warnanya hitam kecoklatan yang terbuat dari Single Crystal Oxygen Free Copper, 4 strands. Mimin suka banget sama kabel ini karena bahannya yang ringan, lentur, dan fleksibel. Kabelnya juga memiliki ketebalan yang pas. Jadinya bukan yang tebal banget sampai terasa kaku dan berat, bukan juga yang tipis sampai terasa ringkih dan mudah kusut.
FITTING :
Housing dari IEM ini memiliki ukuran yang termasuk sedang. Secara lebar dan ketebalan housing-nya masih tergolong yang berukuran normal, namun tinggi-nya sedikit saja terasa lebih tinggi daripada kebanyakan IEM. Bentuknya termasuk yang semi-pseudo karena terdapat sedikit lekukan finch atau sayap pada bagian shell-nya.
Nozzle dari IEM ini juga memiliki ukuran yang normal. Mimin masih bisa mengganti banyak eartips ke IEM ini. Walaupun lebar dan panjang nozzle-nya ini termasuk yang normal saja, namun bentuk shell yang menyambung ke nozzle-nya ini agak panjang. Hal itu mungkin akan membuat fitting dari IEM ini menjadi agak menggantung bila dipasangkan dengan eartips yang panjang juga. Tapi karena bentuk housing-nya masih termasuk yang aman serta terbuat dari material yang ringan, membuatnya nyaman untuk dipakai dalam waktu yang lama.
DRIVABILITY :
IEM ini menurut Mimin sedikit lebih berat untuk di-drive bila dibandingkan beberapa IEM lain di kelas harganya. Mimin biasa memakai IEM ini dengan kabel bawaan yang dipasangkan ke DAC/AMP TimeEar BTE-9 di mode bluetooth-nya. Di low gain, untuk Mimin yang low volume listener (orang yang suka mendengarkan IEM di volume yang lebih rendah daripada kebanyakan orang), volume yang cocok untuk mendengarkan IEM ini diantara 8-10 dari 63.
SUARA :
Arah suara dari IEM ini menurut Mimin termasuk yang balance saja. Suara seperti ini bisa juga disebut netral (IEF 2020) dengan sedikit tambahan bass. Hampir semua frekuensi suaranya terdengar setara di sini. Bass-nya rapih dengan sensasi memantul yang unik, ditambah dengan mid-nya yang natural, dengan treble-nya yang relatif smooth.

Gambar Grafik Suara Kiwi Ears Cadenza II
BASS :
Bass dari IEM ini bisa banget memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan banyak IEM yang ada di pasaran. Untuk IEM yang menggunakan single DD, suara dari bass-nya itu bisa terasa seperti terpisah sendiri. Jadinya seakan-akan IEM ini memiliki 2 DD di dalam masing-masing housing-nya.
Kuantitas bass dari IEM ini termasuk yang cukupan aja. Bukan yang besar dan bisa menggetarkan telinga kalian. Jadinya mungkin tidak akan cocok untuk para basshead. Namun ternyata kualitas bassnya sangatlah unggul untuk di kelas harganya. Kontrol dari bass-nya itu bagus sekali. Mimin sama sekali tidak merasakan adanya bass yang menyebrang ke area frekuensi mid-nya. Jadinya bass-nya di sini tidak mengganggu suara dari mid seperti suara vokal penyanyi.
Saat Mimin coba mendengarkan lagunya Creepy Nuts yang berjudul “Otonoke”, suara sub bass yang memantulnya itu terdengar jelas dan terasa terpisah dari frekuensi lainnya. Rasanya unik dan agak menggelitik telinga gitu, wkwk. Pokoknya asik banget mendengarkan lagu-lagu yang lumayan fokus ke suara bass-nya!
Hal seperti ini bisa terjadi karena terdapat teknologi KARS 2.0 yang sudah Mimin jelaskan di bagian pembukaan di atas. Teknologi tersebut juga bisa menghasilkan suara bass yang terasa membal atau memantul yang unik. Jarang sekali IEM memiliki suara bass seperti ini.
Fokusnya lebih ke sub bass daripada mid bass-nya. Jadi bass dari IEM ini akan lebih memberikan suara rumble dan sensasi dalam dari sub bass daripada hentakan ataupun pukulan dari mid bass-nya. Untungnya mid bass-nya di sini ga sampai terdengar kering atau kekurangan banget kok. Hentakan dari mid bass-nya di sini masih terasa, walaupun bukan yang paling ber-impact. Mimin juga merasa kalau IEM ini masih termasuk OK untuk dipakai mendengarkan lagu-lagu cepat seperti yang ada double pedalnya. Karena transient speed-nya di sini tidak begitu terasa lambat, walaupun bukan yang cepat banget juga.
MID :
Frekuensi mid dari IEM ini juga merupakan bagian yang diunggulkannya. Suara mid dari IEM ini terdengar bersih, rapi, natural, dan cukup balance. Mid-nya terdengar bersih karena kontrol dari bass-nya yang bagus itu. Vokalnya secara keseluruhan terasa cukup maju, namun bukan yang sampai di depan banget secara posisi.
Suara vokal perempuan dan vokal laki-lakinya juga masih termasuk yang setara. Walaupun kalau diteliti lagi, suara vokal perempuannya akan sedikit lebih maju daripada vokal laki-lakinya. Vokal perempuan yang dihasilkan oleh IEM ini terdengar bening, lepas, dan jelas. Tidak ada suara vokal yang terdengar kurang natural seperti tertahan, sengau, ataupun shouty. Sedangkan vokal laki-laki di sini akan terasa kurang berbodi dan kurang tebal, karena suara dari lower mid-nya yang sangat bersih itu. Suara dari alat musiknya juga masih terdengar natural dengan posisinya yang sedikit lebih mundur daripada suara vokalnya.
TREBLE :
IEM ini memiliki suara treble yang masih termasuk smooth. Fokusnya lebih ke upper treble daripada mid treble-nya. Jadinya suara seperti gemericik dari simbal akan lebih terdengar di sini. Treble-nya juga secara keseluruhan masih aman dari sibilance ataupun treble yang menusuk dan mengganggu. Begitu juga dengan suara distorsi gitarnya terdengar gigitan dan rasa garangnya di sini. Presentasi treble dari IEM bukan yang paling eksten sampai ke ujung upper treble-nya, namun perlu diingat lagi kalau IEM ini masih menggunakan konfigurasi single DD saja. Suara treble seperti ini memang sudah menjadi ciri khas dari IEM yang menggunakan single DD.
TEKNIS :
Level teknis dari IEM ini sangat bersaing di kelas harganya. IEM ini lebih menonjolkan segi teknikalitas seperti soundstage-nya yang lebar, separasi dan imaging yang masih terasa baik, dan clarity-nya yang terasa bening. Suara kanan-kiri dari IEM ini terasa lebar banget untuk di kelas harganya. Mungkin bisa jadi yang paling lebar untuk di kelas harganya. Sedangkan untuk suara depth depan-belakang dan juga height atas-bawahnya masih adaan saja. Selain itu, separasi yang dihasilkan oleh IEM ini juga terasa jelas pemisahannya. Hal itu lagi-lagi karena teknologi KARS 2.0 yang terdapat di dalam IEM-nya.
PENUTUP :
Kiwi Ears Cadenza II hadir sebagai penerus yang matang dari pendahulunya dengan membawa teknologi KARS 2.0 yang sukses meningkatkan performa, khususnya di sektor bass dan teknikalitas. IEM ini menawarkan karakter suara balance cenderung netral dengan sedikit tambahan bass yang terasa unik, dalam, dan terkontrol. Dipadukan dengan mid yang natural serta treble yang smooth, Cadenza II memberikan pengalaman mendengarkan yang nyaman namun tetap detail untuk berbagai genre musik.
Di sisi teknis, Cadenza II tampil menonjol di kelas harganya dengan soundstage yang terasa luas, separasi yang jelas, serta clarity yang bersih. Build quality, desain, dan kabel bawaan juga memberikan kesan cukup premium untuk harga 800 ribuan. Walaupun bukan pilihan utama untuk para basshead atau pencari suara yang sangat fun, IEM ini cocok untuk penikmat suara balance yang mengutamakan kualitas, kerapian, dan pengalaman mendengarkan yang natural.

Gambar Tampilan Kiwi Ears Cadenza II
Cocok untuk Siapa?
- Penikmat suara balance / netral dengan sedikit bass boost
- Yang suka vokal natural, bersih, dan tidak terlalu tebal
- Pendengar yang mengutamakan clarity, separasi, dan soundstage luas
- Pengguna yang ingin merasakan teknologi terbaru (KARS 2.0) dari sebuah IEM
- Yang suka sensasi sub bass unik & “memantul”
- Cocok untuk all roundercasual listening (pop, akustik, J-pop, dll.)
Kelebihan
- Bass unik, dalam, dan sangat terkontrol (berkat KARS 2.0)
- Mid natural, bersih, dan enak untuk vokal
- Treble smooth dan aman dari sibilance
- Soundstage luas di kelas harganya
- Separasi & imaging jelas
- Build quality bagus dengan desain yang premium
- Kabel bawaan bagus, ringan, dan fleksibel
Kekurangan
- Kurang cocok untuk basshead (kuantitas bass dan impact mid bass-nya tidak besar)
- Vokal pria terasa sedikit kurang tebal/berbody
Segitu aja yang bisa Mimin jelasin ya. Terima kasih buat temen-temen yang sudah baca. Kalau ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung tulis saja di kolom komentar. Sampai ketemu lagi di review selanjutnya. Cheers!




