Review 7hz x Crinacle Divine & 7hz x Crinacle Diablo
Yuhu…. Bass Audio kedatangan 2 IEM hype lagi nih guys. IEM planar hasil kolaborasi antara 7hz dan juga Crinacle, namanya 7hz x Crinacle Divine & 7hz x Crinacle Diablo. Kedua IEM ini dituning khusus agar memiliki suara yang senatural mungkin sampai hampir menghilangkan ciri khas suara dari hampir semua IEM planar yang ada sejauh ini. Mau tau kayak gimana suara dari kedua IEM ini? Kita langsung masuk ke pembahasannya aja yuk!
PEMBUKA :
7hz dan Crinacle sudah beberapa kali melakukan kolaborasi untuk membuat IEM, mulai dari 7hz x Crinacle Dioko yang merupakan IEM planar termurah di masanya dan 7hz x Crinacle Salnotes Zero 2 yang masih menjadi pilihan untuk IEM budget. Dan ternyata 7hz Salnotes Zero yang lama juga merupakan IEM yang dituning oleh Crinacle juga. Jadi Crinacle sudah melakukan kolaborasi dengan 7hz sampai 3 kali sebelum 7hz x Crinacle Divine dan 7hz x Crinacle Diablo dirilis.
7hz Divine dan 7hz Diablo merupakan IEM yang seharusnya menjadi penerus dari 7hz Dioko. Karena ketiganya sama-sama menggunakan driver planar dan juga memiliki nama yang sama-sama diawali dengan suku kata “Di” (cocokologi sedikit, ga apa-apa dong, wkwk). 7hz Divine dan 7hz Diablo menggunakan 1 Planar Driver yang berukuran 14,5 mm. Keduanya juga dijual dengan harga 2,5 jutaan.
PACKAGING :

Gambar Beberapa Kelengkapan 7hz Divine dan 7hz Diablo
Kalau kalian pernah melihat packaging dari 7hz Dioko atau 7hz Legato yang super simpel. Sekarang 7hz Divine dan 7hz Diablo juga sama seperti itu kok. Di depan box-nya hanya ada nama dan gambar dari IEM nya. Di dalamnya kalian bakal langsung ketemu sama leather hardcase yang ukurannya besar banget. Seukuran sama box-nya, wkwk. Beneran ga nanggung. Di dalamnya ada sepasang IEM-nya yang sudah terpasang dengan kabel dan sepasang eartips widebore-nya. Ada juga 4 pasang eartips wide bore lainnya, dan juga 3 pasang eartips narrow bore. Seharusnya beberapa diantara kalian sudah mengenali kedua jenis eartips itu kan, wkwk. Jadinya pengalaman unboxing dari kedua IEM ini beneran straight to the point banget.
DESIGN :
Bentuk dari 7hz Divine dan 7hz Diablo sama persis. Bentuknya agak membulat. 7hz Divine berwarna silver, sedangkan 7hz Diablo berwarna hitam dengan sedikit aksen warna silver di pinggir faceplate dan juga logo 7hz nya. Mimin sendiri lebih suka dengan desainnya 7hz Diablo, karena warnanya kerasa lebih premium. Sedangkan 7hz Divine kerasa cerah dan eye-catching. Tapi hal tersebut pastinya subjektif ya. Balik lagi ke preferensi masing-masing. Bahannya terbuat dari CNC aluminum aerospace-grade yang ringan dan durable.Finishing-nya juga rapi banget.

Gambar Tampilan Housing 7hz Divine dan 7hz Diablo
Sedangkan untuk kabel bawaannya, kedua IEM ini menggunakan kabel yang sama. Kabelnya berwarna cokelat yang terbuat dari High-Purity Single Crystal Copper, 2 strands. Kabel dari kedua IEM ini tebal banget. Sedikit lebih tebal daripada kebanyakan kabel bawaan sebuah IEM di harganya. Ketebalan kabelnya ini membuat kabelnya terasa seperti kabel mahal. Biasanya kabel yang setebal ini akan membuat beberapa orang menjadi kurang nyaman saat menggunakan IEM nya. Entah itu karena kabelnya sulit diatur ataupun agak berat di telinga, tapi kabel dari kedua IEM ini masih termasuk ringan dan bukan yang paling kaku. Beberapa kabel yang seperti ini juga akan menghasilkan microphonic saat bergesekan dengan pakaian kita, tapi kabel ini masih termasuk minim microphonic. Overall, unik banget kabel dari 7hz Divine dan 7hz Diablo ini.

Gambar Kabel 7hz Divine dan 7hz Diablo
FITTING :
Bentuk dari 7hz Divine dan 7hz Diablo ini sama-sama agak membulat. Bentuk yang jarang bila dibandingkan dengan kebanyakan IEM lain yang bentuk shell nya datar saja atau semi pseudo. Mimin masih bisa menggunakan IEM ini dengan nyaman dalam waktu yang cukup lama. Asalkan eartips yang dipasangkan ke IEM ini tidak terlalu masuk. Jadi yang penting eartipsnya hanya sekedar nge-grip saja di ujung nozzlenya. Dengan begitu, shell dari IEM-nya tidak sampai menempel semua ke bagian concha/konka telinga Mimin.

Gambar Bentuk Housing 7hz Divine dan 7hz Diablo
Walaupun housing dari kedua IEM ini terbuat dari CNC aluminum, tapi bobotnya termasuk ringan loh. Ukuran dari nozzle-nya juga masih termasuk normal. Bukan yang paling lebar dan juga bukan yang panjang juga. Mimin masih mudah me-rolling ke kedua IEM ini. Overall, Mimin sendiri tidak begitu memiliki masalah besar dari fitting kedua IEM ini.
DRIVABILITY :
7hz Divine dan 7hz Diablo adalah IEM ber-driver planar yang mudah untuk di-drive. Mimin biasa menggunakan IEM ini menggunakan kabel bawaan yang dipasangkan ke DAC/AMP TimeEar BTE-9 dengan mode bluetooth-nya. Di low gain, untuk Mimin yang low volume listener (orang yang suka mendengarkan IEM di volume yang lebih rendah daripada kebanyakan orang), volume 9-11 dari 63 sudah terasa cukup.
SUARA :

Gambar Grafik Suara 7hz Divine dan 7hz Diablo
Impresi pertama waktu Mimin pertama kali menggunakan 7hz Divine dan 7hz Diablo ini terasa banget kalau driver planar yang digunakan di kedua IEM ini bukan driver planar yang umumnya sudah ada dipasaran. Soalnya suara frekuensi mid dan treble dari kedua IEM ini terdengar jauh lebih natural daripada IEM planar lainnya. Kedua IEM ini memiliki timbre yang natural juga. Tidak ada suara ‘zing’ atau metalik. Ciri khas dari driver planar yang tersisa dari kedua IEM ini ada di transient speed nya yang cepat. Hal itu bisa terdengar dari frekuensi bass nya yang cepat sekali recovery-nya terutama di 7hz Divine. Tapi untuk 7hz Diablo juga masih memiliki transient speed khas planar nya walaupun dengan kuantitas bass yang lebih besar. Semua hal tersebut membuat suara dari kedua IEM ini menjadi terasa spesial banget.
BASS :
Kuantitas bass dari 7hz Divine terasa lebih pas dan cukup saja bila dibandingkan dengan 7hz Diablo. Keduanya sama-sama memiliki bass yang fokus di mid bass daripada sub bass nya. Jadinya suara dari pukulan mid bass-nya akan lebih terasa dibandingkan sensasi dalam dan gemuruh dari sub bass nya. Tapi sub bass nya masih terasa kok ekstensinya. Bukan sampai yang roll-off banget sampai ngebuat sub bass nya hilang.
Porsi bass dari 7hz Divine lebih terasa pas dan mendekati netral daripada 7hz Diablo yang lumayan cocok untuk para basshead. Karena 7hz Diablo memiliki mid bass yang lebih banyak 5db daripada 7hz Divine. Jadinya bass dari 7hz Divine akan terasa lebih clean dan natural, sedangkan 7hz Diablo akan memberikan suara bass yang lebih full dan solid.Nah, karena kedua IEM ini menggunakan driver planar, hal tersebut membuat transient speed dari kedua IEM nya terasa cepat. Beberapa orang mungkin akan merasa kekurangan impact dan rumble dari bass efek dari kegesitan transient speed nya tersebut. Tapi hal itu juga yang membuat kedua IEM nya menjadi cocok untuk diajak lagu cepat.
MID :
Frekuensi mid dari kedua IEM ini juga terasa natural. Suara dari mid nya ini beneran mengingatkan Mimin dengan IEM-IEM nya Crinacle sebelumnya. IEM-IEM planar lainnya biasanya memiliki suara mid yang lebih maju secara positioning-nya. Sedangkan positioning dari 7hz Divine dan 7hz Diablo terasa pas. Tidak terlalu maju, dan sama sekali tidak terasa mundur. Hal tersebut juga bisa dilihat dari grafik suaranya. IEM-IEM planar lainnya memiliki peak upper mid di daerah 2kHz, sedangkan kedua IEM ini memiliki peak upper mid di 3 kHz.
Vokal dari 7hz Divine terasa lebih maju dan bersih daripada 7hz Diablo. Hal itu bisa dirasakan dari suara vokal perempuannya. Contohnya saat menggunakan 7hz Divine, suara dari 9Lana di lagu “BALALAIKA” terdengar lebih lepas dan maju daripada 7hz Diablo yang terasa lebih tebal. Hal tersebut juga terasa di vokal laki-laki. 7hz Diablo membuat vokal laki-laki sangat berbobot dan tebal, sedangkan vokal laki-laki dari 7hz Divine terasa pas saja. Tidak terlalu tebal dan tidak terasa tipis sama sekali. Overall suara dari mid nya termasuk smooth. Jadinya aman sekali dari suara vokal yang shouty (terlalu maju).
TREBLE :
Treble dari kedua IEM ini termasuk yang smooth dan natural juga. Benar-benar berbeda daripada kebanyakan IEM planar. Biasanya driver planar pada kebanyakan IEM bisa memberikan suara treble yang metalik atau zing yang merusak timbre suaranya. Sedangkan di kedua IEM ini, suara treblenya terasa natural dan sebagaimana mestinya. Suara treble-nya lebih fokus di mid treble daripada upper treble. Suara simbal masih terdengar natural. Bukan yang paling lepas dan splashy. Bukan juga yang paling airy, karena kurangnya ekstensi di upper treble-nya. Namun hal itu juga yang membuat treble dari kedua IEM ini menjadi aman dari sibilance atau treble yang nusuk dan kasar. Serta membuat nyaman juga untuk dipakai berlama-lama.
TEKNIS :
Teknis dari 7hz Divine menurut Mimin sedikit lebih baik daripada 7hz Diablo. Untuk separasi, imaging, clarity dan detail nya, 7hz Divine terasa lebih bagus. Sedangkan 7hz Diablo lebih unggul di soundstage dan dinamikanya. Untuk resolusi, transient speed, dan timbre dari keduanya masih sekelas.
PENUTUP :
7hz x Crinacle Divine dan 7hz x Crinacle Diablo adalah dua IEM planar yang berhasil membawa penyegaran besar di dunia planar IEM. Keduanya menghadirkan karakter suara yang jauh lebih natural, smooth, dan bebas metalik dibanding mayoritas planar lain di pasaran. Seakan menunjukkan bahwa 7hz dan Crinacle benar-benar serius merombak “DNA suara planar” yang biasanya identik dengan zing, treble tajam, dan positioning mid yang terlalu maju.
Divine hadir sebagai opsi yang paling natural dan seimbang: bass yang cukup, mid yang bersih, serta treble yang halus. Cocok untuk pendengar yang mencari neutral-ish planar dengan transien cepat namun tetap organik. Sementara itu Diablo memposisikan diri sebagai versi yang lebih fun dan berenergi. Bassnya lebih besar dan lebih berdaging, vokalnya lebih tebal, serta soundstage lebih lega. Diablo cocok untuk pendengar yang ingin planar dengan karakter bold dan bass-forward tanpa kehilangan kontrol dan kehalusan.
Segitu aja yang bisa Mimin jelasin ya. Terima kasih buat temen-temen yang sudah baca. Kalau ada yang ingin ditanyakan, bisa langsung tulis saja di kolom komentar. Sampai ketemu lagi di review selanjutnya. Cheers!




