Binary Acoustics 1900: Tuning yang Matang dengan Teknis yang Gemilang

Binary Acoustics 1900: Tuning yang Matang dengan Teknis yang Gemilang

Review Binary Acoustics 1900

Siapa nih yang tahu soal Binary Acoustics? Itu loh, brand IEM yang dulu pernah berkolaborasi dengan reviewer untuk menghasilkan IEM yang bernama Binary x Gizaudio Chopin. Selain itu, beberapa bulan yang lalu juga Mimin pernah membahas IEM dari Binary dengan teknologi driver MEMS tanpa energizer eksternal pertama di dunia yang bernama Binary EP321 MEMS. Sekarang mereka merilis lagi IEM baru mereka yang bernama Binary 1900 yang tidak kalah menariknya. Mau tau semenarik apa IEM ini? Yuk kita langsung masuk ke pembahasannya!


PEMBUKA :

Binary Acoustics 1900 merupakan IEM yang terinspirasi dari film “The Legend of 1900”. Di dalam filmnya terdapat adegan saling balas antara kedua pianis yang saling berkompetisi untuk menjadi pemenang. Konsep soal piano ini juga disalin ke desain ukiran faceplate-nya yang bernuansa piano dan not musik.

Konfigurasi yang dimiliki oleh IEM ini diantaranya 10mm Dynamic Driver, 6mm Passive Radiator, 4 Balanced Armature. Binary Acoustics 1900 dengan susunan drivernya yang menarik ini memiliki harga di marketplace Indonesia sekitar 4,4 jutaan.


PACKAGING :

Kalau kalian pernah melihat box IEM Binary sebelumnya, pasti kalian akan tahu dengan ciri khas tampilan box mereka yang sangat misterius sekaligus elegan. Sama seperti box dari IEM ini yang memiliki warna hitam penuh dengan motif labirin yang sama dengan desain faceplate IEM-nya.

Gambar Packaging Binary 1900

Ukuran box-nya termasuk sedang. Di dalamnya terdapat:

  • Sepasang IEM Binary Acoustics 1900
  • Sebuah Kabel
  • Sebuah Hardcase dengan ukuran yang cukup besar
  • 6 pasang eartips hitam normal bore (S/M/L)

Mungkin pengalaman unboxing dari IEM ini terasa kurang spesial, tapi setidaknya semua kelengkapan yang ada di dalamnya masih termasuk yang fungsional.


DESAIN :

Tampilan dari IEM ini menurut Mimin sangat menarik. Faceplate-nya yang terbuat dari Stainless Steel Alloy ini memiliki desain yang dibuat melalui proses vintage engraving. Desainnya ini terinspirasi dari elemen piano dan not musik yang Binary sebut sebagai konsep “A Panel Shaped by Rhythm and Freedom.” Sedangkan untuk bagian shell-nya terbuat dari resin 3D-printed chamber berwarna hitam. Kombinasi tersebut memberikan tampilan premium, elegan, namun tetap terasa simpel dan agak minimalis.

Finishing dari keseluruhan housing-nya juga sudah sangat baik. Mimin tidak mendapatkan adanya bagian yang kasar ataupun tajam dari housing-nya. Build quality dari IEM ini juga terasa lumayan solid. Bagian resin dari IEM-nya terasa cukup padat dan kokoh.

Gambar Desain Binary 1900

Material yang digunakan di dalam kabel bawaannya adalah Silver Plated OFC (Oxygen-Free Copper), 6N shielding, dan Furukawa PCUHD core yang dibuat menjadi 2 strands. Kabel ini juga memiliki 2 macam varian jack. Ada yang 3.5mm single ended dan 4.4mm balance. Mimin suka dengan bahan dari kabelnya yang lentur, fleksibel, dan ringan. Itu juga yang membuat kabel ini menjadi sangat mudah untuk diatur saat digulung. Kita tidak akan merasakan adanya tambahan bobot dari kabelnya saat menggunakan IEM ini. Oh ya, Mimin juga tidak menemukan adanya masalah microphonic dari kabel ini saat bergesekan dengan pakaian Mimin.


FITTING :

Bentuk housing dari IEM ini masih termasuk yang ergonomik. Terdapat lekukan-lekukan yang cukup mengikuti bentuk concha/konka telinga kebanyakan orang. Mimin juga tidak merasakan adanya sudut yang tajam saat menggunakan IEM ini. Namun ukurannya yang agak besar dan lebar, mungkin akan membuat beberapa orang yang memiliki ukuran telinga yang agak kecil menjadi tidak nyaman saat menggunakannya. Untungnya bobot housing-nya masih termasuk ringan saat digunakan. Selain itu, ukuran nozzle dari IEM ini ternyata masih termasuk normal. Bukan yang terlalu lebar dan juga tidak terlalu panjang. Mimin bisa mengganti banyak eartips ke nozzle IEM ini.


DRIVABILITY :

IEM ini menurut Mimin masih mudah untuk di-drive. Mimin biasa menggunakan IEM ini dengan kabel bawaan jack 3.5mm-nya ke DAC/AMP Hiby W4 di mode USB-C nya. Di medium gain, untuk Mimin yang low volume listener (orang yang suka mendengarkan IEM di volume yang lebih rendah daripada kebanyakan orang), volume yang cocok untuk mendengarkan IEM ini di antara 4-7 dari 30 atau sekitar 20% dari volume maksimalnya.


SUARA :

Oh ya, di pembahasan suara dari IEM ini, Mimin akan mengganti eartips bawaannya dengan eartips bawaan dari IEM lain yang sangat sering kita dapatkan di IEM lain, yaitu Acoustune AET07 ataupun kloningannya. Hal itu sengaja Mimin lakukan agar housing IEM-nya bisa lebih menempel ke concha/konka telinga Mimin. Dengan melakukan hal tersebut, getaran suara bass yang dihasilkan oleh driver passive radiator-nya akan terasa lebih baik dan asik didengarkan.

Menurut Mimin, IEM ini memiliki suara yang sangat balance. Bass-nya dituning sangat rapi dan terkontrol dengan kuantitas yang pas, begitu juga dengan vokalnya yang dibuat cukup maju, bening, dan natural, serta treble yang terdengar detail dan ekten, tapi sangat smooth dan linear. Suara yang dituning serapi ini juga masih diimbangi dengan kualitas teknis yang bersaing juga. Mulai dari soundstage-nya yang lebar dan immersive, kesan layering, separasi, dan imaging yang presisi, serta detail, clarity, dan juga timbre yang baik pula, membuat IEM ini menjadi pendatang baru yang bisa menggeserkan popularitas IEM lama.

Gambar Grafik Suara Binary 1900

BASS :

Secara kuantitas, bass yang dihasilkannya termasuk yang pas. Fokusnya terasa lebih ke sub bass daripada mid bass-nya. Jadinya kita akan lebih bisa merasakan sensasi dalam, rumble atau gemuruh yang dihasilkan oleh sub bass-nya daripada pukulan dari mid bass-nya. Contohnya waktu Mimin mendengarkan lagunya Creepy Nuts yang berjudul “doppelgänger”, suara dalam dari sub bass-nya terdengar mantap banget. IEM ini juga bisa menghasilkan tekstur bass yang jelas. Itu terjadi karena adanya driver passive radiator yang membantu driver DD-nya untuk menghasilkan suara bass yang lebih kuat dan eksten ke bagian sub bass agar suaranya terasa lebih dalam.

Untungnya suara mid bass-nya ini masih bisa kita dengarkan dengan normal dan tidak terasa hilang. Mimin masih bisa mendengarkan hentakan suara drum yang cukup dari lagunya Creepy Nuts yang berjudul “Otonoke”. Tuningan bass seperti ini membuat IEM ini memiliki kontrol bass yang sangat rapi. Mimin sama sekali tidak merasakan adanya suara bass yang menyebrang ke area frekuensi mid-nya. Diajak lagu yang cepat seperti lagunya Dysmn yang berjudul “Please, Take Away The Pain” juga masih terdengar tidak terlalu lambat.


MID :

Mimin juga suka dengan presentasi suara mid yang dihasilkan dari IEM ini. Suara vokal perempuan terasa lebih maju daripada vokal laki-laki. Biasanya di banyak IEM lain, vokal perempuan yang lebih maju bisa menandakan kalau suara vokal secara keseluruhannya akan terasa tipis. Namun di IEM ini, suara vokalnya masih terasa normal dan natural. Bukan yang dibuat tipis sekali, tapi sama sekali bukan vokal yang dibuat tebal juga. Kata-kata yang bisa menggambarkan suara mid dari IEM ini diantaranya bersih, bening, lepas, dan smooth.

Saat Mimin coba mendengarkan lagunya 9Lana yang berjudul “DYNA MIND”, suara penyanyinya memiliki energi yang pas. Rasanya tidak terlalu maju sampai terdengar shouty, tapi emosi yang dihasilkannya bisa tersampaikan semua. Waktu penyanyinya bernyanyi di nada yang tinggi, suaranya masih terdengar lepas tanpa ada yang terasa tertahan atau bahkan sengau. Mimin juga mencoba lagu lain yang memiliki vokal laki-laki yang agak berat seperti lagunya Penthouse yang berjudul “Taxi to the Moon”. Suara vokalis laki-lakinya masih terdengar normal apa adanya. Bobot dari suara vokalnya masih terasa pas dan cukupan saja. Itu terjadi karena suara di lower mid-nya dibuat datar tanpa adanya kenaikan ataupun penurunan.

Suara yang dihasilkan dari alat musiknya juga masih terdengar lengkap. Tidak ada suara alat musik yang dibuat terlalu menonjol ataupun terlalu tersembunyi. Posisinya juga dibuat tidak terlalu mundur dari suara vokalnya.


TREBLE :

Bagian suara ini yang paling Mimin suka dari IEM ini. Itu karena suara treble yang dihasilkan dari IEM ini terdengar sangat linear, smooth, dan sangat minim peak. Biasanya istilah smooth dari suara suatu IEM menunjukan kalau kuantitas treble-nya bukan yang termasuk banyak, tapi di IEM ini kuantitas treble-nya memiliki takaran yang sangat pas. Rasanya tidak terlalu banyak sampai membuat beberapa orang yang sensitif dengan treble menjadi kesakitan, dan bukan juga treble yang dibuat terlalu sedikit sampai membuat detail dari beberapa suaranya menjadi hilang (dark). IEM ini memiliki kuantitas dan juga kontrol treble yang sangat baik.

Fokus treble-nya lebih terasa di mid treble daripada upper treble dan lower treble-nya. Hal tersebut membuat suara crash simbal seperti di lagunya Sambomaster yang berjudul “Seishun Kyousoukyoku” memiliki energi yang cukup, mulai dari suara splashy dari mid treble-nya sampai ke sensasi sparkling dan airy dari sisa suara ujung simbal di upper treble-nya. Suara lengkingan gitar di salah satu lagu dari game Sonic Frontiers yang berjudul “Break Through It All” juga masih terdengar cukup garang dan menggigit.

Dari lagu-lagu tersebut, Mimin tidak begitu merasakan adanya suara treble yang terasa menyerang ataupun pedas. Itu karena kuantitas treble-nya bukan yang dibuat terlalu banyak. Karena presentasi treble-nya yang smooth dan linear juga, membuat suara treble dari IEM ini menjadi sangat aman dari sibilance ataupun kasar. Pokoknya juara banget suara treble dari IEM ini.


TEKNIS :

Tuningan suara yang sangat matang ini ternyata tidak membuat segi teknisnya ditinggalkan juga. Menurut Mimin, level teknikalitas yang dimiliki IEM ini masih bisa bersaing dengan beberapa IEM yang harganya sedikit lebih tinggi. Itu karena IEM ini memiliki soundstage yang sangat lebar, megah, dan bisa banget memberikan sensasi yang cukup imersif. Bentuknya agak mengoval, dengan suara width (kanan-kiri) yang sangat lebar, height (atas-bawah) yang pas, dan depth (depan-belakang) yang cukupan saja.

Selain itu, segi teknis yang lainnya juga tidak kalah bagusnya, mulai dari penempatan suara yang akurat dan presisi. Seolah-olah suara yang muncul memiliki ruangan tersendiri. Setiap suaranya juga terasa terpisah-pisah. Mimin jadi lumayan mudah untuk menentukan dari mana suara itu berasal. Hal itu menunjukan kalau layering, separasi, dan imaging yang dihasilkan IEM ini termasuk yang sangat baik. Belum lagi resolusinya yang jelas, detail suara yang mantap, clarity yang bening, timbre yang natural. Semuanya membuat IEM ini menjadi sangat sayang apabila kalian lewatkan.


PENUTUP :

Binary Acoustics 1900 merupakan IEM yang menawarkan tuning suara yang sangat balance dengan kombinasi bass yang rapi dan terkontrol, vokal yang bersih, bening, natural, serta treble yang detail, ekstensif, smooth, dan linear. Tidak hanya mengandalkan tuning, IEM ini juga memiliki kemampuan teknis yang sangat baik dengan soundstage yang lebar dan imersif, imaging yang presisi, separasi dan layering yang jelas, serta resolusi, clarity, dan timbre yang memuaskan. Kombinasi tersebut membuat Binary 1900 mampu memberikan pengalaman mendengarkan yang terasa lengkap dan matang untuk berbagai jenis musik.

Dengan build quality yang solid, fitting yang ergonomis, kabel yang ringan dan fleksibel, serta kemampuan teknis dan tuning yang balance, Binary 1900 menjadi salah satu IEM yang sangat menarik untuk dipertimbangkan di kelas harganya. IEM ini sangat cocok untuk kalian yang mencari karakter suara yang balance, natural, detail, dan tetap nyaman didengarkan dalam waktu lama, terutama bagi pendengar yang menyukai vokal yang bersih dan treble yang smooth tanpa mengorbankan kemampuan teknis.

Gambar Detail Binary 1900

Cocok untuk Siapa?

  • Pengguna yang mencari IEM dengan karakter suara balance dan natural.
  • Pecinta vokal, terutama yang menyukai vokal perempuan yang bersih, bening, dan masih energik.
  • Pendengar yang menyukai treble detail, tetapi tetap smooth dan minim sibilance.
  • Pengguna yang menginginkan bass yang rapi, terkontrol, dan memiliki sub bass yang dalam.
  • Audiophile yang mengutamakan soundstage luas, imaging presisi, separasi, dan layering yang baik.
  • Pengguna yang membutuhkan IEM untuk berbagai jenis musik dengan tuning yang tidak terlalu ekstrem.
  • Pengguna yang mengutamakan fitting ergonomis dan kabel yang ringan serta fleksibel.


Kelebihan

  • Tuning suara sangat balance, natural, dan matang.
  • Sub bass-nya dalam dan bertekstur, serta kontrol bass yang sangat rapi
  • Vokal bersih, smooth, dan natural, dengan energi yang pas tanpa shouty.
  • Treble detail, ekstensif, smooth, dan linear, sehingga sangat aman dari sibilance.
  • Soundstage sangat lebar, megah, dan imersif.
  • Imaging presisi dengan separasi dan layering yang sangat baik.
  • Resolusi dan detail suara sangat baik, dengan clarity yang bening dan timbre yang natural.
  • Build quality solid dengan finishing housing yang sangat baik.
  • Kabel ringan, fleksibel, mudah diatur, dan minim microphonic.
  • Fitting ergonomis dengan bobot housing yang masih ringan.


Kekurangan

  • Ukuran housing yang agak besar dan lebar dapat membuat sebagian pengguna dengan telinga kecil kurang nyaman.
  • Packaging dan pengalaman unboxing terasa kurang spesial meskipun kelengkapannya tetap fungsional.

Segitu aja yang bisa Mimin jelasin ya. Terima kasih buat temen-temen yang sudah baca. Sampai ketemu lagi di review selanjutnya. Cheers!